Era Cyber, Sebuah Harapan dan Kekhawatiran

Oleh: M.Irsyam Faiz*

“Jangan merasa lelah kawan teruslah berfikir, paksalah otak kita untuk berfikir, tinggalkan kebiasaanmu yang selalu gampang menyerah,,itu hanya akan buang – buang waktu saja. Kurangi chatting, facebook, dan hal-hal yang membuat waktumu tidak menjadi produktif”.

Barangkali itulah perkataan salah seorang kawan yang membuat kita  merasa terinjeksi untuk kemudian merenungi perkataan tadi. Betapa banyak waktu yang terbuang selama ini. setidaknya itu adalah yang saya alami saat ini ketika hidup sebagai mahasiswa dan dituntut untuk kreatif dan berilmu, mungkin saya adalah salah satu dari ribuan mahasiswa yang terbawa oleh kemajuan teknologi, terlena oleh mudahnya berkomunikasi dengan teman-teman didunia maya, yang sebetulnya jika tidak digunakan untuk hal yang bermanfaat itu hanya membuang-buang waktu saja. Chating, facebook, twitter dan jejaring sosial lainnya.

Kemajuan teknologi bagaikan pisau bermata dua, di satu sisi teknologi akan memberikan kemaslahatan bagi umat manusia ketika teknologi itu digunakan sesuai dengan fungsinya, internet telah menyihir dunia yang begitu luas menjadi seperangkat alat yang bernama computer,laptop,handphone,I-Pad dan sebagainya. yang dimana kita bisa memberi dan menerima infomasi ke dan dari seluruh dunia hanya dengan duduk didepan computer, sambil berjalan, sambil tiduran dan tentunya dengan biaya yang sangat terjangkau bahkan gratis. Disisi lain pula teknologi akan menjadi boomerang bagi manusia di dunia ketika digunakan tidak sesuai fungsinya. dengan kemudahan-kemudahan yang ada, Banyak orang – orang yang kemudian menyalahgunakan teknologi tersebut dengan memberikan/menyebarkan informasi-informasi yang merusak. Seperti gambar, tulisan, video porno atau propaganda yang menyudutkan pihak tertentu. Atau yang lainnya. Dan bukan hanya diinternet saja tetapi di media komunikasi lain seperti televisi, radio, Koran dan sebagainya.

Inilah yang terjadi dimasyarakat kita pada saat ini. Penggunaan media komunikasi secara global yang menyebabkan seperti ada pergeseran nilai dimasyarakat, khususnya dalam konteks ilmu pengetahuan dan budaya. Dimana referensi ilmu pengetahuan yang dulu kebanyakan diperoleh secara empiris yang membutuhkan waktu yang cukup lama sehi0ngga tidak mengurangi kualitas pengetahuan itu sendiri.  tetapi kalau kita melihat realita yang ada sekarang adalah bahwa referensi pengetahuan dapat diperoleh dengan sangat mudah, tinggal bertanya sama “mbah goolge” maka semua akan terjawab, terlepas dari akurat atau tidak akurat. Dari segi budaya juga mengalami hal yang demikian, istilah  “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat” menjadi kajian menarik bagi kalangan akademisi komunikasi, kita sering melihat orang-orang yang sedang berkumpul namun tidak ada pembicaraan dalam perkumpulan itu, yang ada hanya kesibukan masing-masing individu dengan alat canggihnya yang selalu berada dalam genggamannya. Secara fisik orang-orang itu berkumpul dengan jarak yang sangat dekat, tetapi sebetulnya mereka sedang terkoneksi dengan orang yang jauh-jauh.

Fenomena yang telah dijelaskan tadi telah merubah perilaku masyarakat menjadi individual. Sebuah contoh di tataran akademisi sekarang banyak fasilitas khususnya di kampus yakni cara belajar diluar kelas yaitu dengan cara online dimana mahasiswa dan dosen belajar bersama-sama berada dalam space atau ruang yang berbeda. Artinya system belajar yang tadinya dilakukan dalam ruang kelas maka ini bisa dilakukan diluar kelas, dimanapun, kapanpun, selagi masih didukung perangkat-perangkat yang ada. Mahasiswa tidak perlu repot-repot lagi dating ke kampus berangkat dari rumah dan lain sebagainya. Itu artinya dalam konteks pendekatan komunikasi interpersonal dalam komunikasi antar kelompok secara langsung sudah sangat berkurang.

Melihat fenomena ini maka munculah pertanyaan: “apakah ini kemajuan atau kemunduran??” mengingat dengan adanya teknologi seperti ini maka orang akan lebih individualis, tetapi di sisi lain hal ini memberi kemudahan. Itu bila kita lihat dari contoh teknologi informasi.

 

Media masa baik cetak, elektronik maupun internet sebagai lembaga yang berpengaruh besar saat ini merupakan kekuatan yang besar untuk mengendalikan opini public dimana masyarakat lebih nurut dengan apa yang disampaikan oleh media dibanding yang lainnya. Dan disinilah sebetulnya ruang dimana ilmu pengetahuan dan budaya populer dapat bermain.


Ada data yang menarik untuk kita ketahui bersama, bahwa jumlah penerbit cetak pada tahun 2006 mencapai 899 buah(SPS,2007). Perkiraan sirkulasi pers tahun 2006 untuk surat kabar harian adalah 6.058.486 eksemplar, majalah 5.525.857 eksemplar, surat kabar mingguan adalah 1.081.953 eksemplar, tabloid 4.732.055 eksemplar, bulletin 7.809 eksemplar. jumlah totalnya mencapai 17.406.160. daerah peredaran pers hingga tahun 2006 masih didominasi Jakarta yaitu ( 71%=12.520.778 eksemplar), kemudian luar Jakarta (29 %=4.885.382 eksemplar). Sementara itu jumlah stasiun TV nasional terdiri dari televise republic Inddonesia ( TVRI ) 23 stasiun didaerah dan dipusat ditambah dengan10 stasiun televise swasta/komersial. Disamping televise yang berskala internasional, tumbuh pula stasiun televise local yang mencapai lebih dari 30 stasiun baik dikelola oleh pihak swasta maupun oleh unsur pemda. Semua televise ini mengcover sekitar 67,2 persen dari total populasi sekitar 219.898.300 penduduk Indonesia. Sedangkan stasiun radio yang beroperasi mencapai 1.013 buah temasuk 57 stasiun RRI daerah dan satu stasiun nasional dengan jangkauan akses penduduk mencapai 214,5 juta jiwa.(budi setiyono,iklan dan politik.galang press : 2008)

 

Diatas adalah data tahun 2006, pada saat itu televisi mengkover 67,2 persen dari total populasi penduduk indonesia. Dan kita tidak bisa membayangkan saat ini kita sudah sampai pada tahun 2011 dimana besar kemungkinan muncul media-media baru yang akan menambah data penduduk yang tercover oleh media, artinya pengaruh media akan sangat bertambah besar. Selain media cetak dan elektronik, kita juga jangan lupa bahwa ada media baru yaitu internet dan telepon seluler yang presentasenya sebagai media komunikasi semakin hari semakin meluas.

 

Dari data diatas sudah jelas bahwa merebaknya media komunikasi sangat berpeluang untuk kemajuan ilmu pengetahuan dalam konteks penyebarannya atau mungkin dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan sengaja mengeksploitasi media untuk penyebaran virus yang dapat merusak umat manusia dalam berpola pikir, perilaku dan bermasyarakat.

 

Kita sebagai manusia yang hidup diera teknologi ini harus lebih arif dalam menyikapinya, yakni dengan memanfaatkan teknologi dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan dan kepentingan agama dan bangsa terutama dibidang pendidikan, ekonomi, dan budaya. (MIF)

 

*Mahasiswa Fakultas  Ilmu Komunikasi Universitas Islam Sultan Agung (Unissula)

sumber: www.suaramerdeka.com

Last Updated (Tuesday, 31 January 2012 07:56)

 

Member Login



LiveZilla Live Help

You must have the Adobe Flash Player installed to view this player.

Favorite Link

Sosial Media

@fikomUnissula
FikomUnissula